www.radiomdsfm.com

Switch to desktop Register Login

Server 1

Loading ...

Server 2

Loading ...

Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Masjid Sintru

Rate this item
(0 votes)

Karanganyar, NU Online
Sejarah mencatat bahwa Islam di Indonesia selalu meninggalkan jejak-jejak kisah yang menarik untuk ditelusuri. Jejak-jejak itu menjadi bagian dari peradaban yang dibawa dan dibangun sebagai eksistensi bahwa Islam bukanlah agama terbelakang dan mampu beradaptasi dengan dimensi ruang dan waktu.

Seperti Masjid Al Huda atau Masjid Sintru yang berada di Dukuh Sintru Kulon, Dusun Kembang, Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan. Dari penulusuran tim dari NU Online, belum lama ini, Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Sintru ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagai peninggalan anak buah Pangeran Diponegoro yang bernama Hasan Tafsir. Sosok ini pula yang ikut menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah Karanganyar timur.

Bukti peninggalan sejarah tentang peradaban Islam di Masjid Sintru ini dikuatkan oleh kitab pustaka yang berisi pelajaran agama Islam dengan tulisan huruf arab dan terjemahan di bawahnya dengan bahasa jawa namun tetap dengan huruf arab. Kitab tersebut hingga kini masih tersimpan di dalam masjid meski kondisinya tak cukup terawat.

Namun sayang, kitab pustaka yang ditinggalkan Hasan Tafsir itu kini sudah tak lagi dapat terbaca oleh masyarakat. Sebab, bahasa Jawa yang digunakan diyakini adalah bahasa Jawa pada zaman dulu, bukan bahasa Jawa yang saat ini dikenal. Apalagi kitab itu kini tersisa beberapa saja. “Kitab yang lainnya dulu dibawa ke Katerban dan Jogorogo di Ngawi, Jawa Timur. Dulu memang banyak dari sini yang nyantri di sana,” ungkapnya.

Kitab-kitab yang dibawa ke Ngawi itu mencapai dua karung. Alasannya pada waktu itu masyarakat setempat kurang peduli terhadap sejarah. Hingga kini hanya satu kitab saja yang tersimpan di Masjid Sintru.

Sebelum akhirnya dinamai Masjid Al Huda, masjid ini juga sempat diberi nama At Taqwa. “Pergantian nama Al Huda karena pengaruh masa orde baru pada waktu itu,” tuturnya.

Sampai kini masjid Al Huda dipergunakan sebagai masjid induk di Dukuh Sintru. Setahun lalu, petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah pernah datang guna mengecek mengenai apakah memang ada kaitannya dengan sejarah atau tidak. Namun hanya berhenti di situ, kini belum terdengar lagi kabar dari BPCB Jateng seputar bukti sejarah Masjid Sintru.

“Kesaktian” Hasan Tafsir

Hasan Tafsir, tokoh yang dianggap sebagai pendakwah yang menetap di Dukuh Sintru sejak abad ke-19, itu mendapat tanah Perdikan dari Mangkunegaran. Konon, Hasan Tafsir yang merupakan anak buah Pangeran Diponegoro itu memiliki kemampuan lebih dari sekadar manusia biasa.

Misalnya saja, ketika ada pencuri yang masuk ke wilayah tersebut, gara-gara ada Hasan Tafsir, pencuri tersebut tidak akan bisa keluar sebelum Hasan Tafsir memberi makan si pencuri tersebut. “Orang pada waktu itu nekat mencuri kan karena lapar,” kata Ustad Parsono Agus Waluyo, salah satu tokoh masyarakat setempat.

Setelah Hasan Tafsir memberi makan, maka pencuri itu pun dilepas. Namun sebelumnya, ia menyisipkan berbagai nasehat kepada orang tersebut. Dakwah yang dilakukan Hasan Tafsir semacam itu mengundang simpati orang untuk datang untuk belajar ilmu agama dengannya. Sehingga agama Islam di wilayah itu mulai berkembang dan menyebar ke wilayah di sekitarnya.

Bukti tentang sejarah Hasan Tafsir di wilayah tersebut adalah adanya makam yang diyakini menjadi peristirahatan terakhirnya. Dari nisan yang masih ada, Hasan Tafsir diperkirakan wafat pada tahun 1911. Di nisan itu juga terdapat tulisan arab yang ejaannya tidak sembarang dapat membacanya.


Bukti lain dari keberadaan Hasan Tafsir, yakni peninggalan kitab pustaka miliknya. Namun sayang, kitab pustaka yang ditinggalkan oleh Hasan Tafsir itu kini sudah tak lagi dapat terbaca oleh masyarakat.

Sebab, bahasa Jawa yang digunakan diyakini adalah bahasa Jawa pada zaman dulu, bukan bahasa Jawa yang saat ini dikenal. Apalagi kitab itu kini tersisa beberapa saja. “Kitab yang lainnya dulu dibawa ke Katerban dan Jogorogo di Ngawi, Jawa Timur. Dulu memang banyak dari sini yang nyantri di sana,” ungkapnya.

Kitab-kitab yang dibawa ke Ngawi itu mencapai dua karung. Alasannya pada waktu itu masyarakat setempat kurang peduli terhadap sejarah. Hingga kini hanya satu kitab saja yang tersimpan di Masjid Sintru. (Rodif/Ajie/Mahbib)