www.radiomdsfm.com

Switch to desktop Register Login

Server 1

Loading ...

Server 2

Loading ...

Tidak Ada Rica, "Torang" Merana

Rate this item
(0 votes)

Oleh: Pingkan Elita Dundu dan Budi Suwarna

CABAI rawit atau rica menyengat di hampir semua masakan Minahasa. Lihat saja, pisang goreng dan jagung rebus pun disantap dengan rica. Tidak heran, ketika harga rica melonjak, banyak orang Minahasa jadi merana.

Jefta Sinombor (48) mengambil segenggam rica. Ia masukkan cabai rawit berwarna oranye dan merah itu ke dalam lumpang. Lantas ia tumbuk bersama bumbu ayam buluh lainnya, seperti kunyit, jahe, bawang merah, dan bawang putih. Aroma pedas rica langsung menyeruak ke udara begitu alu menumbuknya hingga hancur.

”Ricanya harus banyak supaya masakan jadi enak,” kata Jefta, warga Desa Elusan, Amurang Barat, Kabupaten Minahasa Selatan, akhir November lalu. Untuk memasak seekor ayam, Jefta memasukkan segenggam rica segar. Jika ayamnya dua ekor, berarti dua genggam, dan seterusnya.

Tak lama kemudian, bumbu yang Jefta tumbuk sudah siap. Lientje mengambil alih pekerjaan selanjutnya. Ia mengaduk ayam dengan bumbu itu dan memasukkannya satu per satu ke dalam buluh atau bambu. Setelah buluh penuh, Lientje menggarangnya di sebelah api. Dua jam kemudian, aroma ayam buluh melayang ke sekujur gudang kopra yang disulap menjadi dapur dadakan itu.

Saat waktu makan tiba, ayam buluh dituangkan ke atas piring. Bumbu ayam buluh yang bercampur lemak ayam berkilauan menjanjikan rasa lezat. Kami mencicipinya sepotong. Sengatan pedas rica seolah meledak di mulut bercampur dengan rasa gurih ayam. Sekujur mulut langsung terasa panas. Keringat meleleh di kening dan leher.

Takaran rica yang digunakan Jefta pada bumbu ayam buluhnya buat sebagian orang Minahasa tergolong moderat. Dwita Rembet (45), warga Desa Kayu Uwi, Tompaso, biasa menggunakan seliter rica untuk memasak satu ekor ayam. Untuk memasak daging hewan lain yang ukurannya lebih besar, Dwita memakai 3 liter rica.

Rica yang digunakan agak berbeda dengan rica yang ditanam di Jawa. Rica Minahasa bentuknya lebih ramping dan panjang dengan rasa yang jauh lebih menyengat dibandingkan dengan rica di Jawa. Rica semacam itu disebut rica anjing yang membuat penyantapnya bisa ”terkaing-kaing” tersengat pedasnya.

Seperti Dwita, Olfie Raranta (45), warga Desa Kakas, juga biasa memasak masakan dengan takaran rica yang luar biasa banyak. ”Rica satu loku bagini nyanda cukup untuk tiga orang. Minimal dua loku (Cabai segenggam tidak cukup untuk bikin sambal buat tiga orang. Minimal dua genggam),” ujar Olfie yang menghabiskan sekitar 3 liter rica untuk lima hari.

Buat Minahasa, makan tanpa rica seperti menyantap sayur tanpa garam. Tidak heran, masakan apa pun pasti diberi banyak rica, mulai dari dabu-dabu, tumis kembang pepaya, pampis, woku, cakalang garo rica, sup ikan, bubur manado, rintek wuuk (bulu halus), tinorangsak, hingga ayam buluh.

Pa torang pe lidah, daun apa pun, kecuali daun pintu, hewan berkaki atau tidak, bahkan kuntilanak, so makang deng rica so sadap,” seloroh Johanes Rambing, warga Pineleng, Minahasa. Maksudnya, di lidah dia, apa pun sedap kalau dimakan dengan rica.

Bahkan, pisang goreng serta jagung dan singkong rebus yang disantap sebagai teman minum kopi dan teh pun dicocol dengan dabu-dabu alias sambal. Di kawasan wisata Bukit Kasih, Kanonang, kami menyantap pisang goreng dengan sambal nan pedas. Sensasi rasa yang muncul cukup unik. Sengatan pedas rica menyusup di antara rasa manis pisang goreng.

Inflasi

Orang Minahasa mengenal sengatan pedas cabai sekitar abad ke-16. Sejarawan dan budayawan dari Universitas Sam Ratulangi, Fendy EW Parengkuan, menjelaskan, awalnya rasa pedas pada masakan orang Minahasa bersumber dari goraka atau jahe merah. ”Itu lebih pedas dari cabai,” kata Fendy.

Sekitar tahun 1580, orang Spanyol menjejakkan kaki di Sulawesi Utara dan menjadikan Pulau Manado Tua sebagai tempat persinggahan kapal mereka. Diperkirakan saat itulah, orang Spanyol membawa bibit cabai dan beberapa bibit palawija. Tanaman cabai yang berasal dari Benua Amerika itu lalu ditanam di Sulut untuk memberi makan para pendayung kapal.

Seiring waktu, para pendayung kapal itu memilih menetap di Kema dan kawin campur dengan perempuan pribumi. Selera makan makanan pedas yang dibawa para pelaut Spanyol itu ternyata cocok dengan lidah orang Minahasa. Sejak saat itu, cita rasa rica tidak lepas dari lidah orang Minahasa. Selanjutnya, masakan minahasa menggunakan dua sumber rasa pedas sekaligus, goraka dan rica, yang rasanya sama-sama membakar.

Kini rica seolah menjadi bahan makanan pokok di tanah Kawanua. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara tahun 2011 menyebutkan, konsumsi rica per kapita per bulan masyarakat Sulawesi Utara mencapai 1,6 kilogram atau lebih tinggi dari konsumsi cabai nasional 1,3 kilogram per kapita per bulan. Kebutuhan rica di kawasan Minahasa sekitar 2.000 ton per bulan.

Karena tingkat konsumsi rica yang tinggi, inflasi sejumlah daerah di Sulut banyak disumbang oleh kenaikan harga rica. Data BPS Maret 2013 menunjukkan, rica menyumbang 0,85 persen pada inflasi Kota Manado sebesar 1,52 persen.

Tidak hanya menyumbang inflasi, kenaikan harga rica membuat orang Manado dan Minahasa merana. ”Sewaktu harga rica naik sampai Rp 100.000 per kilogram, saya terpaksa mengurangi makan rica. Lidah rasanya kelu, nafsu makan berkurang. Rasanya seperti orang sakit saja,” kata Dwita.

Begitulah, tiada hari tanpa sengatan pedas rica di Minahasa. (Sonya Hellen Sinombor/B Esther Julianery)

Sumber : KOMPAS CETAK