www.radiomdsfm.com

Switch to desktop Register Login

Server 1

Loading ...

Server 2

Loading ...

Abaikan Rekor, 2 Emas di Tangan

Rate this item
(0 votes)

Maria Natalia Londa dan Rini Budiarti, yang menjadi andalan Indonesia di nomor lompat jauh dan lari halang rintang 3.000 meter, sama-sama memilih untuk mengabaikan pemecahan rekor SEA Games. Itu dilakukan demi kepastian perolehan medali emas SEA Games Myanmar 2013.

Dua emas dari Maria dan Rini itu pulalah perolehan maksimal tim Indonesia di cabang atletik SEA Games 2013 pada perlombaan Rabu (18/12) di Stadion Utama Wunna Theikdi, Naypyidaw. Dengan demikian, hingga Rabu, cabang atletik baru menyumbang empat emas.

Perolehan empat emas itu di bawah target Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), yang menetapkan enam emas bagi tim nasional atletik. "Kami targetkan enam emas, yang merupakan target riil. Jadi sedikit, tetapi pasti," kata Sekretaris Jenderal PB PASI Tigor Tanjung.

"Ya, kita (cabang atletik), kan, terus dapat tekanan mulai hari pertama karena atletik belum banyak memberikan medali emas. Itu sebabnya, saya ikut apa kata pelatih, bahwa saat ini lebih baik memastikan medali emas dulu daripada berburu pemecahan rekor SEA Games," tutur Maria yang sehari sebelumnya meraih emas sekaligus memecahkan rekor SEA Games nomor lompat jangkit.

Apalagi, tambahnya, "Kebetulan tumit kaki kiri ataupun kaki kanan saya kemarin kena benturan keras. Itu sebabnya saya masih harus menahan nyeri dan menggunakan plester pembantu sampai saat ini," tutur Maria.

Seperti dilaporkan wartawan Kompas, Korano Nicolash LMS, dari Naypyidaw, Myanmar, Maria meraih emas setelah lompatan kelimanya mencapai 6,39 meter. Medali perak dan perunggu diraih Thitima Muangjan (Thailand, 6,24 meter) dan Thi Thu Thao Bui (Vietnam, 6,14 meter).

Penuturan serupa disampaikan Rini Budiarti yang dua tahun lalu di SEA Games Jakarta-Palembang tak hanya membukukan medali emas, tetapi sekaligus memecahkan rekor SEA Games, dengan catatan waktu 10 menit dan 0,58 detik.

"Tadinya memang saya sudah berpikir untuk memecahkan rekor saya sendiri di SEA Games Myanmar sini. Namun, setelah diskusi dengan pelatih, akhirnya saya memilih untuk lari aman saja dulu. Yang penting meraih emas," tutur ibunda Zafier Utiarahman (4,5) itu.

Sebenarnya, kata Rini, hingga Selasa malam sebelum tidur sudah disepakati ia akan berusaha memecahkan rekor. Namun, itu berubah Rabu pagi. "Kami tidak tahu, lawan berat, Nguyen Thi Phuong, cedera engkel. Kalau dia tidak ikut, kita tentu bisa memburu pemecahan rekor," tutur Wita Witarsa, pelatih Rini.

Thi Phuong mendadak mengundurkan diri, hanya beberapa saat sebelum start lari halang rintang 3.000 meter dimulai. "Itu sebabnya saya hanya melawan diri sendiri. Karena melihat ke belakang ternyata sudah jauh sekali lawan-lawan saya," tutur istri Jemi Utiarahman (35) itu.

Memang, karena harus memimpin sendiri, tanpa lawan beratnya asal Vietnam itu, Rini sempat sedikit menurunkan kecepatan. "Memang saya sudah ingatkan agar Rini menggunakan pace 76 saja atau rata-rata di 80, tetapi rasanya ada yang 81 tadi. Ya, memang karena niatnya hanya meraih emas," ujar Wita.

Jika tujuannya memecahkan rekor, "Saya lari harus di pace 76 semua dan itu sebenarnya bisa," ucap Rini.