www.radiomdsfm.com

Switch to desktop Register Login

Server 1

Loading ...

Server 2

Loading ...

Film “Cahaya dari Timur” Senapas dengan Gus Dur

Rate this item
(0 votes)

Jakarta, NU Online
Puluhan Gusdurian Jakarta menonton bareng film “Cahaya dari Timur” di aula Wahid Institute, Matraman, Jakarta, pada Sabtu sore (9/8). Kemudian dibedah bersama produsernya Glen Frdly, Seknas Gusdurian Alissa Wahid dan sastrawan Agus Noor.

Ditemui selepas acara, Alissa Wahid mengatakan, film tersebut mengandung pesan-pesan kuat yang selama hidup diperjuangkan Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Sejak awal pembuatnya, sutradara Angga Dwimas Sasongko adalah pengagum Gus Dur. Bahkan saya dan Angga punya banyak rencana dalam dokumenter dari sisi berbeda tentang Gus Dur,” kata Alissa.

Putri sulung Gus Dur ini menceritakan, film ini belum selesai dibuat saja, Angga mengingingakan untuk diputar di teman-teman Gusdurian. “Begitu premier, Glen ketemu saya. ‘Mbak film ini harus diputar di Gusdurian'. Terus kita daftar untuk diputar di Gusdurian,” katanya menjelaskan.

Mengutip Glen, Alissa mengatakan, film ini turun dari bioskop, kemudian ditonton untuk acara formal semisal Hari Anak Nasional. Tapi untuk komunitas, diputar pertama kali di Gusdurian ini. “Karena ikatannya banyak, ikatan ideologi, nilai-nilai dan inspirasi dari Gus Dur. Film ini senapas dengan apa yang diajarkan Gus Dur,” tambahnya.  

Film Cahaya dari Timur diluncurkan 19 Juni 2014 dengan penulis naskah Swastika Nohara Irfan Ramli. Film ini bercerita tentang perjuangan anak-anak Maluku berusia 15 tahun yang ingin mengikuti kompetisi sepak bola di ibu kota.

Anak-anak Maluku tersebut dilatih sepakbola oleh Sani Tawainela, mantan pemain Tim Nasional U-15 Indonesia di Piala Pelajar Asia tahun 1996. Ia gagal menjadi pemain profesional karena mengalami guncangan besar ketika menyaksikan tertembaknya seorang anak dalam sebuah kontak senjata di Ambon.

Ia kembali ke Tulehu, desa kelahirannya, dan menyambung hidup sebagai tukang ojek. Ia prihatin menyaksikan keterlibatan anak-anak dalam konflik agama di Maluku. Ia kemudian mengalihkan perhatian mereka dengan sepak bola. (Abdullah Alawi)