www.radiomdsfm.com

Switch to desktop Register Login

Server 1

Loading ...

Server 2

Loading ...

Peneliti Jepang: Yogyakarta Kota Nyaman Bagi Seniman

Rate this item
(0 votes)

ogyakarta merupakan kota yang nyaman bagi seniman, karena mereka mendapatkan tempat untuk berkreasi, kata peneliti manajemen seni Osaka City University, Jepang, Tomoko Hayashi.

"Dibandingkan dengan Jakarta dan Bandung, Yogyakarta merupakan kota yang lebih nyaman bagi seniman. Keberadaan ruang alternatif bagi seniman di Yogyakarta menjadikan seniman mendapatkan tempat untuk berkreasi," katanya di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia pada pertemuan ke-11 peneliti Urban Research Plaza (URP), pengembangan ruang alternatif di Yogyakarta memiliki sejarah sendiri dan tidak dapat dipahami hanya dengan konteks Barat.

"Penciptaan ruang alternatif di Yogyakarta tidak ditemukan di tempat lain sehingga memberikan ruang lebih mudah bagi seniman dalam mengambil tanggung jawab dan perannya di masyarakat," katanya.

Ia mengatakan, kondisi itu menyebabkan hampir setiap hari ada pembukaan pameran, konser, dan kegiatan seni budaya yang diselenggarakan oleh komunitas seniman.

"Tidak hanya menciptakan berbagai acara, para seniman juga menjalankan banyak program sosial di masyarakat meskipun dikemas dalam praktik artistik untuk menyampaikan pesan dan perannya pada masyarakat," katanya.

Dalam konteks seni rupa kontemporer di Yogyakarta, menurut dia, praktik seniman lebih terfokus pada sikap mereka sendiri dalam masyarakat ketimbang representasi sebagai karya seni.

"Hal itu berarti bahwa pergerakan ruang alternatif di Yogyakarta dapat diakui sebagai praktik sosial seniman," katanya.

Dosen Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Ika Putra PhD mengatakan, pemerintah perlu memperhatikan ruang akses bagi masyarakat untuk menikmati peristiwa budaya terutama di jalan-jalan perkotaan, termasuk akses bagi kelompok berkebutuhan khusus.

Menurut dia, pengunjung yang datang ke perkotaan yang ingin menikmati peristiwa budaya umumnya akan menikmati aksesibilitas, atraksi, dan fasilitas melalui kenangan memori otak mereka melalui jalan-jalan yang dilewati.

"Selanjutnya memori itu disampaikan secara naratif kepada orang lain. Dengan demikian citra kota budaya dapat mereka pahami secara estetis lewat akses jalan dan lingkungan kota yang mereka lihat," katanya.