www.radiomdsfm.com

Switch to desktop Register Login

Server 1

Loading ...

Server 2

Loading ...

Rate this item
(1 Vote)

Kediri (radiomdsfm.com) --- Pabrik Gula (PG) Pesantren Baru, Kota Kediri Jawatimur akhirnya memberikan sejumlah penjelasan dan gambaran beserta bantuan air bersih terhadap warga atas persoalan pencemaran sumur milik sejumlah warga di Lingkungan Majekan, Kelurahan Pesantren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. 

 

 

Unit usaha PT Perusahaan Nasional X (PTPN X)  ini membeberakan bila sejauh ini tidak ada proses giling di Pabriknya,tingginya curah hujan yang tinggi beberapa waktu terakhir membuat rembesan limbah produksi berupa tetes ke tanah. 

 

 

"Pabrik Gula Pesantren Baru sudah selesai giling sejak bulan Oktober 2017 lalu. Sehingga bukan limbah yang keluar, tetapi air hujan pada posisi hujan lebat dan di dalam pabrik keadaannya banyak sehingga membuat jebolnya saluran air di bawah itu. Dan keluar ke warga. Akan tetapi kami sudah koordinasi dengan warga, melalui RT dan RW, semua bisa memahami. Kami juga memenuhi harapan warga dari seluruh warga Majekan," kata General Manager (GM) PG Pesantren Baru Kota Kediri, Koes Darmawanto, Selasa (30/1/18).

 

 

"Volume tetes yang keluar relatif sangat kecil sekali. Karena hanya tetes sisa membersihkan dari tangki. Dan posisi IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) kami terpaut jauh sekitar 300 meter di sebelah timur dari lokasi luapan air disaat hujan hingga gorong (sudetan) pada tembok tidak mampu menahan rembesan yang ada," jelasnya.

 

 

Terkait persoalan tersebut, PG Pesantren Baru membantu menyediakan air bersih dan akan memperbaiki gorong gorong yang berada dekat tembok pabrik. 

 

"Selama kondisinya belum normal, kami membantu menyediakan air bersih. Ke depan akan kita buatkan sumur. Atau buatkan tandon besar untuk masyarakat. Lalu di dalam pabrik sendiri, kita buatkan plesterisasi, supaya saat pengambilan tetes tidak ada rembesan," janjinya.

 

Diberitakan sebelumnya, sedikitnya 50 kepala keluarga (KK) di RT 25, 26 dan 27 RW 5, Lingkungan Majekan, Kelurahan Pesantren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri resah.  Warga mengalami krisis air bersih kurang lebih selama dua minggu ini air sumur mereka berubah warna menjadi kuning keruh dan berbau busuk dan terpaksa beli air mineral untuk dikonsumsi dan meminta air saluran PDAM dari para tetangga untuk mencuci dan mandi.(em/ga)

Read more... 0
Rate this item
(0 votes)

Kediri(radiomdsfm.com)--- Limbah "Misterius" disekitar Pabrik Gula (PG) Pesantren Kota Kediri mencemari sejumlah sumur milik warga sekitar pabrik. Pencemaran tersebut membuat warga lingkungan Majekan RT 27 RW 5 Kelurahan Pesantren Kota Kediri kesulitan air bersih untuk konsumsi.

 

Julius warga setempat mengatakan, pencemaran limbah PG Pesantren sudah berlangsung sejak dua minggu lalu. Saat ini warga kesulitan air untuk dikonsumsi. Sumur yang biasa dipakai airnya untuk masak,mencuci dan mandi kini tidak bisa lagi digunakan.

 

"Pencemarannya bertahap. Awalnya satu rumah, tapi setelah beberapa hari kemudian baru merembet kerumah lain yang juga berdekatan dengan pabrik," ujarnya saat menunjukan air yang tercampur limbah, Senin (29/1/18).

 

Bahkan tidak hanya kesulitan untuk dikonsumsi, sebelumnya warga juga merasakan gatal-gatal pada kulit akibat air yang tercampur limbah pabrik gula. 

 

"Kemarin sebelum keruh seperti ini, tangan dan kaki merasa gatal karena air yang disini masih digunakan untuk mencuci," imbuh Julius.

 

Dari pencemaran tersebut sedikitnya 50 Kepala Keluarga (KK) kesulitan air bersih. Tidak hanya rumah milik warga, namun juga tempat ibadah juga ikut terkontaminasi limbah "Misterius" yang berada berdekatan dengan PG Pesantren. Air yang digunakan untuk bersuci tersebut berwarna keruh dan berbau menyengat.

 

Sementara itu, Ahmad Suparli Ketua RT 27 RW 5 Lingkungan Majekan, Kelurahan Pesantren Kota Kediri mengatakan, dengan kondisi ini warga meminta segera diberikan bantuan air bersih. Sebab, sudah sekitar dua minggu ini warga harus membeli air bersih untuk dikonsumsi. 

 

"Selama tiga minggu ini kita selalu beli air bersih untuk minum dan masak. Untuk mandi kita selalu numpang ke warga yang airnya tidak tercampur limbah dari PG Pesantren. Kita ingin segera mendapat bantuan air bersih," jelasnya.

 

Ia menambahkan, dari kasus pencemaran limbah tersebut warga sudah sempat mengadu pada pihak PG Pesantren dan Pemerintah Kota Kediri. 

 

"Hari ini tadi sudah ada pengecekan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Kediri, tetapi belum ada hasil. Bahkan kita juga sudah mengadu ke pihak pabrik tapi juga belum ada respon," tandasnya.(em/pd)

Read more... 0
Rate this item
(1 Vote)

Kediri(radiomdsfm.com)--- Limbah "Misterius" disekitar Pabrik Gula (PG) Pesantren Kota Kediri mencemari sejumlah sumur milik warga sekitar pabrik. Pencemaran tersebut membuat warga lingkungan Majekan RT 27 RW 5 Kelurahan Pesantren Kota Kediri kesulitan air bersih untuk konsumsi.

 

Julius warga setempat mengatakan, pencemaran limbah PG Pesantren sudah berlangsung sejak dua minggu lalu. Saat ini warga kesulitan air untuk dikonsumsi. Sumur yang biasa dipakai airnya untuk masak,mencuci dan mandi kini tidak bisa lagi digunakan.

 

"Pencemarannya bertahap. Awalnya satu rumah, tapi setelah beberapa hari kemudian baru merembet kerumah lain yang juga berdekatan dengan pabrik," ujarnya saat menunjukan air yang tercampur limbah, Senin (29/1/18).

 

Bahkan tidak hanya kesulitan untuk dikonsumsi, sebelumnya warga juga merasakan gatal-gatal pada kulit akibat air yang tercampur limbah pabrik gula. 

 

"Kemarin sebelum keruh seperti ini, tangan dan kaki merasa gatal karena air yang disini masih digunakan untuk mencuci," imbuh Julius.

 

Dari pencemaran tersebut sedikitnya 50 Kepala Keluarga (KK) kesulitan air bersih. Tidak hanya rumah milik warga, namun juga tempat ibadah juga ikut terkontaminasi limbah "Misterius" yang berada berdekatan dengan PG Pesantren. Air yang digunakan untuk bersuci tersebut berwarna keruh dan berbau menyengat.

 

Sementara itu, Ahmad Suparli Ketua RT 27 RW 5 Lingkungan Majekan, Kelurahan Pesantren Kota Kediri mengatakan, dengan kondisi ini warga meminta segera diberikan bantuan air bersih. Sebab, sudah sekitar dua minggu ini warga harus membeli air bersih untuk dikonsumsi. 

 

"Selama tiga minggu ini kita selalu beli air bersih untuk minum dan masak. Untuk mandi kita selalu numpang ke warga yang airnya tidak tercampur limbah dari PG Pesantren. Kita ingin segera mendapat bantuan air bersih," jelasnya.

 

Ia menambahkan, dari kasus pencemaran limbah tersebut warga sudah sempat mengadu pada pihak PG Pesantren dan Pemerintah Kota Kediri. 

 

"Hari ini tadi sudah ada pengecekan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Kediri, tetapi belum ada hasil. Bahkan kita juga sudah mengadu ke pihak pabrik tapi juga belum ada respon," tandasnya.(em/pd)

Read more... 0
Rate this item
(0 votes)

Kudus - Tak tanggung-tanggung, Ramadhan tahun ini (1338 H/ 2017 M), 13 ribu lebih anak yatim akan mendapatkan santunan dari Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kudus. Program "NU Berbagi" di bulan suci itu akan diselenggarakan di Masjid Agung Kudus, Sabtu (17/06/2017). Bertepatan dengan 22 Ramadhan 1438 H.

Read more... 0
Rate this item
(0 votes)

M. Rikza Chamami, MSI
Dosen UIN Walisongo, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Peneliti Aliansi Kebangsaan


Indonesia selalu hadir menjadi negara yang unik. Salah satu keunikannya adalah soal hubungan negara dan agama—yang selalu dinamis. Sejak awal berdirinya negara Indonesia, wacana bentuk negara dan agama sudah mengemuka. Namun akhirnya, dengan semangat persatuan dan kesatuan, bentuk negara disepakati sebagai negara kesatuan (unitarisme) dan masyarakat diberi hak untuk memilih agama sesuai keyakinannya.

Read more... 0